“Kata pena, aku ada­lah raja
Seo­rang raja Dodi Iswandi Mau­lia­wan dalam pui­sinya yang berjudul..”


Begi­tu­lah cara saya men­yam­pai­kan salam kepada para hadi­rin dalam suatu acara temu sas­tra, bebe­rapa waktu yang lalu. Syu­kur para senior masih melem­par­kan sen­yum tanda hor­mat mereka pada sang legenda, Raja Ali Haji, sas­tra­wan melayu ter­be­sar abad ini. Dan berun­tung tidak ada hadi­rin lainnya yang melem­par­kan kulit jeruk atau­pun biji keleng­keng seba­gai tanda jeng­kel. Atau mung­kin semuanya sudah tahu ten­tang mua­sal kesom­bon­gan ter­se­but, yakni cupli­kan dari sebuah syair feno­me­nal, ratu­san tahun yang lalu.

Tapi bukan itu yang mem­buat saya sang­gup ber­tahan mem­ba­ca­kan puisi hingga bait ke-2, namun sebuah man­tra ajaib wari­san tetua: sebuah nama, Dodi Iswandi Mau­lia­wan. Sudah ratu­san, bah­kan mung­kin ribuan kali nama itu digaung­kan. Tidak unik memang, namun teta­plah mena­wan bagi saya seo­rang. Ber­de­gup rasanya ketika nama itu diden­dang­kan. Tidak salah lagi, ini­lah bukti bahwa kebe­ra­daan saya diakui.

Tapi per­se­tan! Admi­nis­trasi atau apa­lah itu telah mem­per­kosa tiga kata penuh tuah. Dodi diu­bahnya men­jadi Dody. Mau­lia­wan diper­ko­sanya men­jadi Mau­li­dia­wan. Dan kasihan Iswandi sang pemu­rung, harus digan­deng dua kata baru yang tidak per­nah dike­nal sebe­lumnya. Ini penghi­naan, peram­pa­san, pen­ja­rahan, pen­ye­le­wen­gan hak untuk hidup dan men­ga­bur­kan kebe­ra­daan. Tidak lama memang, hanya seki­tar lima tahun sam­pai semuanya pulih kem­bali men­jadi Dodi Iswandi Mau­lia­wan. Tapi sekali lagi, persetan!

Per­se­tan!