Dodi Iswandi Mauliawan's
sort of a personal blog
sort of a personal blog
Nov 7th

Begitulah cara saya menyampaikan salam kepada para hadirin dalam suatu acara temu sastra, beberapa waktu yang lalu. Syukur para senior masih melemparkan senyum tanda hormat mereka pada sang legenda, Raja Ali Haji, sastrawan melayu terbesar abad ini. Dan beruntung tidak ada hadirin lainnya yang melemparkan kulit jeruk ataupun biji kelengkeng sebagai tanda jengkel. Atau mungkin semuanya sudah tahu tentang muasal kesombongan tersebut, yakni cuplikan dari sebuah syair fenomenal, ratusan tahun yang lalu.
Tapi bukan itu yang membuat saya sanggup bertahan membacakan puisi hingga bait ke-2, namun sebuah mantra ajaib warisan tetua: sebuah nama, Dodi Iswandi Mauliawan. Sudah ratusan, bahkan mungkin ribuan kali nama itu digaungkan. Tidak unik memang, namun tetaplah menawan bagi saya seorang. Berdegup rasanya ketika nama itu didendangkan. Tidak salah lagi, inilah bukti bahwa keberadaan saya diakui.
Tapi persetan! Administrasi atau apalah itu telah memperkosa tiga kata penuh tuah. Dodi diubahnya menjadi Dody. Mauliawan diperkosanya menjadi Maulidiawan. Dan kasihan Iswandi sang pemurung, harus digandeng dua kata baru yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Ini penghinaan, perampasan, penjarahan, penyelewengan hak untuk hidup dan mengaburkan keberadaan. Tidak lama memang, hanya sekitar lima tahun sampai semuanya pulih kembali menjadi Dodi Iswandi Mauliawan. Tapi sekali lagi, persetan!
Persetan!