Dodi Iswandi Mauliawan's
sort of a personal blog
Sep 21st
Posted by Dodi Iswandi Mauliawan in Articles
Pagi ini aku terbangun dengan cara berbeda
Gelombang bunyi yang begitu menggelora, bercinta satu sama lain, mengumbarkan sebuah nyanyian
Apa gerangan yang terjadi di luar sana?
Tidak biasanya langit menghujankan cahaya selembut ini
Tidak biasanya juga aku melihat kemenangan di wajah setiap orang laksana maut pun tak berani menentang
Mereka berjalan
Ada yang menyusuri setapak, ada juga yang berjalan diatas pedal mobil serta motornya
Sudah aku berteriak memanggil nama mereka satu persatu
Namun tidak ada juga satupun yang menolehkan pandangannya ke arahku
Aku tatap lekat – lekat matanya
Benar, ada sorot kepuasan terlihat di dalam sana
Sampai akhirnya tibalah mereka di tanah lapang
Berkumpul dan menyatu dengan ratusan orang lainnya
Apa yang mereka lakukan?
Bersila dan kemudian apa?
Menyembah Tuhanku?
Ketika berbalik, menjadi lebih terkejut aku
Mendapati bahwa beberapa langkah di belakangnya datang lagi satu sosok yang aku kenal
Berjalan dengan kaki, padahal pas mati nanti akan legam kakinya disantap api terpanas sampai khamar yang mengalir disetiap darahnya terhempas kesana — sini
Melambai dengan tangan, padahal pas mati nanti akan remuk kesemuanya dipalu godam sang Malik sampai tidak tersisa, kemudian diciptakan kembali dan diremukkan kembali dalam asas keabadian
Tersenyum dengan seri, padahal pada malam sebelumnya aku menemaninya mencumbu zinah, memeluk haram, dan berkebun dosa
Apa yang dia lakukan?
Bersila dan kemudian apa?
Menyembah Tuhanku?
Aku saja malu berkawan dengan manusia semacam itu
Ouh, namun lihatlah itu
Tak lama kemudian sudah bersujud dia di bawah matahari
Lengkap dengan airmata yang kemudian menguap bersama do’a
Sial, ini pasti hari pembalasan bagiku
Mengapa hanya ada kelembutan dalam diri setiap insan
Tidak adakah setitik saja celah bagi aku untuk bersemayam dalam nafsu mereka?
Lalu, apa artinya keberadaanku saat ini?
Bagaimana juga dendam yang sudah ada sejak Adam diciptakan ini?
Tidak kuat aku mendiami neraka sendirian
Belum habis aku meratap, terperanjat diriku menyaksikan sebuah tangan raksasa menjulur dari langit
Mengejar diriku yang berusaha lari
“Plak,” langsung aku tertampar dan terpental
“BLIS, BANGUUUUNNN!!“
“MANA ADA IBLIS TIDUR!!“
“CEPET SANA, CARI TEMEN LAGI!!“
“MUMPUNG MASIH ADA WAKTU“
Sontak setan membangunkan aku

Phew, syukurlah ternyata semuanya hanya mimpi
Semakin lega nafasku tatkala aku melihat para manusia masih ada yang menggendong kejahatan di punggung dan membuka hatinya selebar mungkin untuk menerima aku