Pagi ini aku ter­ban­gun den­gan cara ber­beda
Gelom­bang bunyi yang begitu meng­ge­lora, ber­cinta satu sama lain, men­gum­bar­kan sebuah nyanyian

Allah maha besar
Allah maha besar
Allah maha besar
Tidak ada Tuhan selain Allah
Allah maha besar
Allah maha besar
Segala puji hanya untuk Allah

Apa geran­gan yang ter­jadi di luar sana?
Tidak bia­sanya lan­git menghu­jan­kan cahaya selem­but ini
Tidak bia­sanya juga aku melihat keme­nan­gan di wajah setiap orang lak­sana maut pun tak berani menentang

Mereka ber­ja­lan
Ada yang men­yu­suri seta­pak, ada juga yang ber­ja­lan dia­tas pedal mobil serta motornya
Sudah aku ber­te­riak memang­gil nama mereka satu per­satu
Namun tidak ada juga satu­pun yang meno­leh­kan pan­dan­gannya ke arahku
Aku tatap lekat – lekat matanya
Benar, ada sorot kepua­san ter­lihat di dalam sana

Sam­pai akhirnya tiba­lah mereka di tanah lapang
Ber­kum­pul dan men­yatu den­gan ratu­san orang lainnya
Apa yang mereka laku­kan?
Ber­sila dan kemu­dian apa?
Men­yem­bah Tuhanku?

Ketika ber­ba­lik, men­jadi lebih ter­ke­jut aku
Men­da­pati bahwa bebe­rapa lang­kah di bela­kangnya datang lagi satu sosok yang aku kenal
Ber­ja­lan den­gan kaki, padahal pas mati nanti akan legam kakinya disan­tap api ter­pa­nas sam­pai kha­mar yang men­ga­lir dise­tiap darahnya terhem­pas kesana — sini
Melam­bai den­gan tan­gan, padahal pas mati nanti akan remuk kese­muanya dipalu godam sang Malik sam­pai tidak ter­sisa, kemu­dian dicip­ta­kan kem­bali dan dire­muk­kan kem­bali dalam asas kea­ba­dian
Ter­sen­yum den­gan seri, padahal pada malam sebe­lumnya aku mene­ma­ninya men­cumbu zinah, meme­luk haram, dan ber­ke­bun dosa

Apa yang dia laku­kan?
Ber­sila dan kemu­dian apa?
Men­yem­bah Tuhanku?
Aku saja malu ber­ka­wan den­gan manu­sia sema­cam itu

Ouh, namun lihat­lah itu
Tak lama kemu­dian sudah ber­su­jud dia di bawah matahari
Leng­kap den­gan air­mata yang kemu­dian men­guap ber­sama do’a

Sial, ini pasti hari pem­ba­la­san bagiku
Men­gapa hanya ada kelem­bu­tan dalam diri setiap insan
Tidak ada­kah seti­tik saja celah bagi aku untuk ber­se­ma­yam dalam nafsu mereka?
Lalu, apa artinya kebe­ra­daanku saat ini?
Bagai­mana juga den­dam yang sudah ada sejak Adam dicip­ta­kan ini?
Tidak kuat aku men­diami neraka sendirian

Belum habis aku mera­tap, ter­pe­ran­jat diriku men­yak­si­kan sebuah tan­gan rak­sasa men­ju­lur dari lan­git
Men­ge­jar diriku yang beru­saha lari
“Plak,” lang­sung aku ter­tam­par dan terpental

“BLIS, BANGUUUUNNN!!“
“MANA ADA IBLIS TIDUR!!“
“CEPET SANA, CARI TEMEN LAGI!!“
“MUMPUNG MASIH ADA WAKTU“
Son­tak setan mem­ban­gun­kan aku

Phew, syu­kur­lah tern­yata semuanya hanya mimpi
Sema­kin lega nafasku tat­kala aku melihat para manu­sia masih ada yang meng­gen­dong kejaha­tan di pung­gung dan mem­buka hatinya sele­bar mung­kin untuk mene­rima aku