Dodi Iswandi Mauliawan's
sort of a personal blog
sort of a personal blog
Aug 17th
Man, ini puisi yang gue rasa paling dapet banget feel-nya. Asli diterjemahkan dari pengalaman gue. Ceritanya, tanggal 1 April yang lalu (bertepatan sama kepulangan Adinda Manohara juga), gue ikut lomba cipta sekaligus baca puisi tingkat nasional di ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Jogjakarta. Jujur aja, perjalanan ini merupakan perjalanan terjauh yang pernah gue tempuh. Soalnya dulu paling banter gue cumen bolak balik Jakarta — Sukabumi doang. Dan, tiket buat ke Jogjakarta itu gak gue dapet gitu aja. Ada seleksi tingkat sekolah, lanjut ke kota, dan terakhir di Provinsi. Mungkin banyak yang bertanya kenapa cowok berekspresi datar kayak gue kok bisa berhubungan sama puisi — puisi. And yeah, percayalah, itu karena gue ganteng (gak jelas mode).
Di acara itu, gue maenin beberapa trik sama inovasi, diantaranya cara penulisan puisi gue, baik secara sistematis atau secara fisiknya. Pas penampilan juga gitu. Kalau ada diantara kalian atau teman kalian ada yang berpartisipasi di acara ini, tanyain aja kenal atau nggak sama orang gila yang baca puisinya lompat sana lompat sini ampe dibilang Garson Poyk sebagai orang gila. Sialnya, gue micalculated di banyak aspek. Di antaranya tema, dan beberapa hal mendasar laennya. Damn. Yang gue incer bukan hadiah ato tahta sebagai pembuat sekaligus pembaca puisi terbaik atau apalah itu, tapi yang gue incer ialah rasa puas pas tau gue bisa mengekspresikan seni gue dengan baik. Parahnya, I’m failed.
Malam itu, pas malam penganugerahan, dari belasan perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (salah satunya gue), gada satupun yang menang. Kami masih punya banyak kekalahan mendasar. Jujur aja, gue nyesek. Rasanya gak punya harga diri aja pas nanti balik ke daerah asal..
Tapi.. Ini adalah satu dari banyak hal yang membuat gue belajar. Yah, kekalahan selalu membuat kita belajar, dan berbahagialah kalo lo pernah kalah. Kalah itu indah..
Pas perjalanan pulang, tepatnya di langit Jogjakarta — Batam, gue nulis sebuah puisi. Di atas kertas tisu, ditulis pake pena bertinta cair yang gue tulis secara terbalk. Sebuah puisi paling jujur dari dasar hati gue. Dikalahkan badai, itu judulnya. Check it out, guys
Dikalahkan Badai
Kekalahan ini menghujaniku dengan tangis
Tidak peduli aku meringis
Ataupun melengking — lengking membuat raja setan sinis
Badai tetap tumpah
Dan aku tetap basah akan kalah
Namun mata-ku berkata lain
Titah lantangnya membunuh senandung sedih sang bibir
“..Bir, tersenyumlah.. merekahlah.. meski tdak seindah sang telinga saat menjamu kenyataan..”
Percuma
Semuanya tetap tewas
Bibir tetap menangis
Mata tetap tersenyum
Telinga tetap merekah
Dan tetap
Tidak ada satupun yang memeluk nyawa
Tidak ada
Hanya hati yang berbisik dalam sunyi
Kau kalah hari ini
Tapi pasti menang esok pagi
Kau dikalahkan badai hari ini
Tapi lusa, satu keluarga badai itu kita bantai
Pasti