Dulu aku per­nah ber­bual ten­tang sufi yang men­jelma men­jadi peng­ge­lan­dang. Ten­tang sang juara yang kemu­dian ter­buang. Ten­tang elang yang ren­tan­gan sayapnya ter­pe­rang­kap petir. Ten­tang satu orang yang sama.

Bayan­gannya ber­ja­lan seba­gai manu­sia malam yang terus berha­rap matahari tidak ter­bit subuh ini. Tidak ada bin­tang yang dapat dihi­tung dan bulan yang semer­bak dalam ang­ka­sanya. Tidak dapat juga kepa­lanya menen­ga­dah, karena rin­tik perih ter­lalu sakit menu­suk biji matanya. Yang ter­sisa pada dirinya saat ini han­ya­lah kepala yang merun­duk. Bah­kan lebih dari itu, masih ada sege­rom­bo­lan pen­ge­rat busuk meng­ge­ro­goti langkahnya.

Kini, bua­lan itu telah men­jadi nyata dan geri­mis riak telah mem­buatku basah.