Per­ke­nal­kan, namanya Afif. Leng­kapnya Muham­mad Afif. Anda dapat meleng­ka­pinya lagi sesuai selera. Muham­mad Afif Sas­tro War­doyo misalnya.

Ini fotonya:

Afif telah men­yan­dang gelar seba­gai teman saya selama kurang lebih 4 bulan. Bera­wal dari per­sia­pan men­gi­kuti sebuah acara pada awal Juni, sam­pai­lah layar lap­top ini menam­pil­kan wajahnya di salah satu situs jeja­ring sosial.

Bukan, dia bukan­lah pacar saya atau pen­ja­lin hubun­gan khu­sus den­gan saya, sam­pai akhirnya dapat hadir di blog ini. Tetapi Afif ada­lah seo­rang pejuang. Dia ber­jihad mela­lui ban­yak hal. Dan per­juan­gannya itu­lah yang benar — benar menginspirasi.

Masih jelas dalam benak saya, ketika pada per­ten­gahan Agus­tus lalu, Afif mem­pos­ting sebuah note ber­ju­dul mimpi. Bukan murni hasil karya dia memang, tapi tin­da­kannya ter­se­but telah mema­tah­kan per­taha­nan per­tama rasa keti­dak peduli-an saya.

Jika ingin mem­ba­canya lang­sung, silah­kan lang­sung menuju link ini, dan untuk seke­dar meleng­kapi, turut saya spoiler-kan isinya:

Tidak hanya itu, Afif juga terus meng­gem­pur rasa keti­dak pedu­lian saya mela­lui sta­tus face­booknya, plurknya, note — note yang selalu hadir, sam­pai blog-nya yang san­gat nya­man diting­gali man­tra — man­tra open source. Apa yang dila­ku­kannya itu bukan­lah ditu­ju­kan secara per­so­nal kepada saya memang, namun tetap saja rasa pena­sa­ran ter­se­but sema­kin menggelitik.

Jujur, sam­pai saat ini, saya tidak tahu apa itu open source atau­pun man­tra — man­tra lain yang diu­cap­kannya, seperti blan­kon, ubuntu, linux, pinux, kios, atau apa­lah itu. Namun dapat dipe­ro­leh gam­ba­ran samar — samar bahwa yang dijihad­kan oleh Afif ada­lah sema­cam trik sulap, dimana para peng­guna sis­tem ope­rasi pro­pie­tary (bener gak fif, tuli­sannya?) dia­jak untuk bera­lih ke sis­tem ope­rasi bebas yang halal. Okeh ralat, yang dibuat bukan untuk komersilitas.

Jika apa yang saya tang­kap ter­se­but meman­glah benar, maka ijin­kan­lah saya untuk ber­bual — bual sedi­kit di blog ini. Men­gu­ta­ra­kan pen­da­pat, mema­dat­kan kata, mele­pas­kan makna.

Sean­dainya pera­tu­ran itu ter­cipta untuk ditaati, sudah seha­rusnya kita men­ga­pli­ka­si­kannya secara sem­purna dalam seni ber­kehi­du­pan. Den­gan begitu, maka apa yang diim­pi­kan para peru­mus pera­tu­ran seperti bua­lan ten­tang keda­maian, keten­tra­man, kete­ra­tu­ran, atau apa­lah itu, pasti dapat ter­wu­jud seba­gai­mana mestinya.

Sean­dainya materi men­ga­rah­kan ham­pir segala sesua­tunya, apa yang anda tahu ten­tang materi? Cara men­da­pat­kannya, men­yim­pannya, atau mengha­bis­kannya? Mung­kin Bill Gates bukan­lah nama asing bagi anda seka­lian yang men­cin­tai materi. Sosok feno­me­nal yang sang­gup mem­beli samu­dera. Tahu­kah anda dari­mana dia men­da­pat­kan kekuatannya?

Ya, dari anda
Namun itu juga bila memang anda menaati peraturan

Mic­ro­soft, ladang emas yang dicip­ta­kan oleh Bill Gates, belum memi­liki sis­tem pen­ja­gaan ketat yang sang­gup men­ce­gah ter­ja­dinya pen­ja­rahan. Men­ge­ri­kan bukan? Men­ja­rah, jauh lebih hina dari­pada meniru. Lalu sadar­kah anda siapa saja para pen­ja­rah tersebut?

Bai­klah, cukup sam­pai disini dulu bua­lan kali ini.
Pasti akan saya update nanti, ketika saya sudah men­ga­mal­kan apa yang saya tutur­kan, yakni menaati pera­tu­ran
Men­yapa anda kem­bali den­gan peran­tara yang halal
Tidak den­gan lap­top ber­sis­tem ope­rasi baja­kan seperti ini


Update, karena ban­yak yang nge­re­quest foto penun­jang (yang request kayaknya nak­sir Afif), maka turut saya ser­ta­kan
Ini­lah dia